catatan ini menginspirasi gw banget deh. gw jadi inget kalimat "bangsa yang besar bangsa yang menghargai jasa pahlawannya". catatan ini dibuat oleh kakak tempat gw les, kak ari. mmm, langsung aja ye, ini dia:
"Sore itu dalam pinggiran jalan protokol cuaca cukup cerah meski dihiasiawan kelabu. Suara kendaraan bermotor menelurkan asapnya yang gelap.Mata saya tertuju pada sebuah pemandangan unik dan mengharukan. Buritantrotoar terduduk seorang kakek tua baya. Berpakaian rapi yang takserapi nasibnya. Tangan kirinya memegang sebungkus nasi warteg. Tangankanannya yang sudah terlukis pembuluh-pembuluh darah memegang dengankuat sendok plastik mentransfer energi kepada tubuhnya yang lunglai.Satu, dua, tiga suap nasi tergiling dalam mulut tak bergigi yang tampakkesusahan mengunyah. Di pundaknya terpampang lambang LVRI, sebuahpangkat semu yang berharga dalam sejarah. Sepatu but yang tampak rajindisemir melekat sebagai pelindung kaki-kakinya yang sudah tak sekuatdulu.
Dialah satu dari lebih kurang 32.000 prajurit dan PNS veteran yangtelah berandil besar dalam memperjuangkan kemerdekaan negara ini.Mereka bertempur dengan bermodalkan keberanian dan resiko kehilangannyawa. Perjuangan dan kegigihannyalah yang membawa republik ini menjadinegeri berdaulat. Bambu-bambu rucingnya telah membakar sendi-sendikekejaman penjajah.Namun, gambaran di alenia pertama tadi cukup mendiskripsikan bahwamereka sama sekali belum dihargai layaknya pahlawan. Nasib veterancenderung diabaikan di negeri ini. Kesejahteraan para pejuang Tanah Airini kerap dikesampingkan. Penghasilan mereka pun bahkan di bawah UMR.Mereka harusnya mendapat perbaikan nasib dan pemakaman yang layak.Kini, mereka hanya mengeluh dan meratapi nasib mereka yang berjuangmembebaskan kita dari jajahan bangsa manapun, dengan mempertaruhkanjiwa dan raga mereka. Dahulu mereka yang menumpahkan darah, meninggalanrumah dan anak istri mereka, demi bisa mengibarkan bendera Merah Putihdi Tanah Ibu Pertiwi Ini.
Sekarang jasa mereka dilupakan oleh kita.Tahun 2006, Para veteran itu mencurahkan isi hati mereka dalam sebuahsurat ke Istana Merdeka. Karena, sejak 1994, satu potong tubuh pahlawanyang cacat dalam perang kemerdekaan hanya dihargai Rp 22.000 per bulan.Sekali lagi, mereka memohon perhatian yang lebih layak.Sungguh sangat memilukan. Pertanyaannya, apakah pemerintah tidak mampumemberikan perhatian yang lebih layak. Bukankah usia para veteran itusekarang sudah 70 hingga 75 tahun, sehingga tidak perlu memakan waktulama untuk sekadar menyenangkan dan memberikan penghargaan yang pantas.
Mereka adalah orang-orang tua kita yang ikut membantu menegakkanberdirinya sebuah negara bernama Republik Indonesia . Sangat wajaruntuk sebuah penghargaan. Tapi inilah raut muka negeri ini di usianyayang ke-65. Raut ironi yang tampak dimana-mana. Lihat saja, gaji dantunjangan para anggota DPR, menteri atau anggota berbagai Komisi yangkini marak di Indonesia . Lalu, bandingkan dengan para veteran yanghanya dihargai Rp 22.000. Bahkan, anggota DPR diberi hingga 30 jutaanrupiah hanya untuk dana serap aspirasi. Padahal, kita belum merasakanhasil kerja para wakil rakyat itu. Inikah wajah negeri yang sudahmerdeka 65 tahun. Beginikah sebuah negeri menghargai para veteran? Laludimanakah keadilan itu? Ketika sepucuk surat melayang ke IstanaPresiden, kita pun tidak tahu, bagaimana nasib surat itu. Kita hanyabisa berharap, semoga ada titik cerah bagi para veteran ketika sinarkemerdekaan menyentuh usia ke-65. Sekadar harapan untuk sebuahkeadilan. Maka, dengarkanlah."
kasian ya gan veteran kita. sepertinya jasa veteran kita tidak ditanggapi oleh pemerintah. tapi giliran DPr kita yang kerja nya ogah-ogahan selalu diperhatiin. nyeh =="

Komentar
Posting Komentar