Malam ini menjadi sangat panjang bagiku. Kerinduanku akan dirimu masih membayangi hari-hariku,
bahkan saat malam datang menemani.seperti saat ini. Ya, aku rindu kamu. Kamu yang
selalu menemani malam-malam ku, yang tidak seperti malam ini. Kemana dirimu
malam ini? Aku punya cerita untuk malam,dan itu lagi-lagi selalu tentang kamu. Sepertinya
malam akan bosan bila aku bercerita tentang ini. Mungkin dia sudah muak dengan
tema seperti ini melulu.
Entahlah, hati ini punya kuasa yang sangat besar, tidak seperti pikiran. Dia dapat dipecundangi oleh perasaan ini. Atau karena aku seorang perempuan mempunya faktor yang cukup untuk mengukuh kemenangan akan sebuah perasaan diatas pikiran dan logika ini.
Hai kau, lelaki pujaan ku yang hanya dapat aku gapai dalam mimpi dan anganku. Tidak kah kamu menyadari datangnya aku? Aku berpikir, kamu pasti menyadari nya. Hanya saja, kamu sangat lihai dalam menyembunyikan perasaan biasa mu dihadapanku. Ah, sial aku memang bodoh. Mengapa aku bisa-bisanya suka dengan seseorang yang tidak suka dengan ku. Tapi jika hati ini seperti diluar kendaliku untuk menyukai seseorang.
Aku rindu kamu. Sudah berapa kali aku melafalkan kalimat itu dalam hati, dalam pikiran. Aku berdoa bisa dapat bertemu dengan kamu saat-saat seperti ini. Memori ini masih terlalu hangat me-rewind apapun kejadian yang terjadi antara kamu dan aku. Aku merasakan detik-detik dalam hidupku saat itu sangat berarti. Seolah aku adalah manusia paling berbahagi yang ada didunia. Ya, hanya dengan kamu saja aku dapat berbahagia. Aku selalu ingat hal-hal apapun yang pertama kali terjadi saat kita bertemu,apakah kamu ingat itu?
Walaupun aku belum pernah memilikimu, tapi kamu membiarkan aku menyayangimu itu sempat cukup membuatku bahagia.ya,hanya sempat. Aku....aku ingin memelukmu seakan aku tidak inigin kehilanganmu. Sepertinya itu hanya angan ku yang akan sulit untuk digapai. Tapi kalo bisa saja berrdoa, aku ingin sekali bisa memeluk.erat.sangat erat. Hingga kaupun akan merasakan ketakutan ku akan kehilangan dirimu nanti.
Aku selalu menerka-nerka, apakah kamu seperti diriku yang selalu menerka mu? Ah sepertinya aku terlalu jauh membayangkanmu akan diriku. Seandainya semesta dapat menyampaikan rinduku ini, ingin sekali rasanya aku memberitahukan semesta untuk mengirimkan bintang-bintang dan bulannya untuk menemani malam dia agar tidak sepi.
Rindu ini memang nakal, maafkan ya. Dia seperti meronta-ronta ingin bertemu dirimu. Tapi...aku hanya takut rindu ini diabaikan olehmu. Maafkan aku rindu kamu.
(19.01)
Entahlah, hati ini punya kuasa yang sangat besar, tidak seperti pikiran. Dia dapat dipecundangi oleh perasaan ini. Atau karena aku seorang perempuan mempunya faktor yang cukup untuk mengukuh kemenangan akan sebuah perasaan diatas pikiran dan logika ini.
Hai kau, lelaki pujaan ku yang hanya dapat aku gapai dalam mimpi dan anganku. Tidak kah kamu menyadari datangnya aku? Aku berpikir, kamu pasti menyadari nya. Hanya saja, kamu sangat lihai dalam menyembunyikan perasaan biasa mu dihadapanku. Ah, sial aku memang bodoh. Mengapa aku bisa-bisanya suka dengan seseorang yang tidak suka dengan ku. Tapi jika hati ini seperti diluar kendaliku untuk menyukai seseorang.
Aku rindu kamu. Sudah berapa kali aku melafalkan kalimat itu dalam hati, dalam pikiran. Aku berdoa bisa dapat bertemu dengan kamu saat-saat seperti ini. Memori ini masih terlalu hangat me-rewind apapun kejadian yang terjadi antara kamu dan aku. Aku merasakan detik-detik dalam hidupku saat itu sangat berarti. Seolah aku adalah manusia paling berbahagi yang ada didunia. Ya, hanya dengan kamu saja aku dapat berbahagia. Aku selalu ingat hal-hal apapun yang pertama kali terjadi saat kita bertemu,apakah kamu ingat itu?
Walaupun aku belum pernah memilikimu, tapi kamu membiarkan aku menyayangimu itu sempat cukup membuatku bahagia.ya,hanya sempat. Aku....aku ingin memelukmu seakan aku tidak inigin kehilanganmu. Sepertinya itu hanya angan ku yang akan sulit untuk digapai. Tapi kalo bisa saja berrdoa, aku ingin sekali bisa memeluk.erat.sangat erat. Hingga kaupun akan merasakan ketakutan ku akan kehilangan dirimu nanti.
Aku selalu menerka-nerka, apakah kamu seperti diriku yang selalu menerka mu? Ah sepertinya aku terlalu jauh membayangkanmu akan diriku. Seandainya semesta dapat menyampaikan rinduku ini, ingin sekali rasanya aku memberitahukan semesta untuk mengirimkan bintang-bintang dan bulannya untuk menemani malam dia agar tidak sepi.
Rindu ini memang nakal, maafkan ya. Dia seperti meronta-ronta ingin bertemu dirimu. Tapi...aku hanya takut rindu ini diabaikan olehmu. Maafkan aku rindu kamu.
(19.01)
Komentar
Posting Komentar