Ada satu masa, dirimu akan merasakan perasaan yang amat dalam kepada seseorang dan perasaan tersebut menjadi sebuah pelajaran hidup dan pengingat kalau kamu adalah manusia yang memiliki sifat Tuhan yang Maha Penyayang dan Pengasih.
Pertemuan yang dibuat Tuhan dan sebenarnya kamu tahu pertemuan itu bukan hal yang disengaja, karena dia ada diantara orang-orang terdekat kalian, dan kedekatan kalian seperti sudah direncanakan.
Entah, selama waktu berjalan kamu semakin merasa bahagia dan membanyangkan masa depan yang indah bersama.
Tidak susah untuk menebak, dia pun juga jatuh dengan perasaan yang sama dan di waktu yang sama pula.
Semesta mendukung kalian untuk terus menghabiskan waktu bersama, sampai dengan usilnya membuat hujan turut ikut membuat kenangan manis nan indah dengannya.
Kau dan dia telah lama bersama, hingga di detik yang entah keberapa kebersamaan kalian, di malam saat kebersamaan kalian hari itu telah berlangsung dari pagi, kalian pun harus sangat berani dan tegas menentukan kisah ini sebagai sebuah hubungan persahabatan atau menjadi sebuah kisah dua orang terkasih.
👦: "aku tahu akan tiba hari ini, karena aku tahu kamu tidak suka hubungan yang tidak jelas mau seperti apa kedepannya. Pertama, hal yang harus kamu tau, aku sayang kamu. Kamu sudah tahu itu. Hal yang membuat aku tidak berani membawa perasaan ini bukan karena aku tidak serius dengan perasaan ini. Hanya saja, hubungan yang kamu inginkan kedepannya ini akan membuat dua akhir kemungkinan. Dan kamu juga tau kemungkinan yang buruk adalah hal yang tidak kuinginkan. Kemungkinan dimana nanti kita tidak akan bisa lagi sedekat ini dan menjadi dua orang asing yang tidak pernah menyapa karena sebuah hal atau alasan. Aku tidak mau kita menjauh jika akhirnya kita tidak bisa bersama lagi"
Kau terdiam, seluruh ucapannya benar-benar membuat kupu-kupu yang ada di dalam perutmu ingin terbang keluar, membuat sakit perut dan secara tidak sadar senyumku pun melengkung mendengar ucapannya. tapi sedetik kemudiann kau sadar, kalimat-kalimat terakhir yang diucapkannya tidak bisa dibantah, karena kau pun berpikir begitu pula. Tidak ingin terjadi akhir buruk yang membuat kalian menjauh. Tetapi hubungan yang tidak jelas hari ini lebih akan membuat perasaan dan hari-hari kalian di depan tidak jelas arah tujuannya.
👧: "Terima kasih sudah mengutarakannya kepadaku. Sebenarnya aku juga memiliki kekhawatiran yang sama denganmu. Tapi kita tidak tahu akan berakhir apa nantinya, setidaknya kita mencoba mulai hari ini untuk lebih jelas. Di depan sana kita tidak tahu akan bersama atau tidak, sama seperti masa depan jenis lainnya, Tuhan yang merencanakan akan seindah apa kisah kita nanti"
Kalimat-kalimat penenang yang jika hari ini kau dengar akan sangat bullshit. Walaupun begitu, satu hari tersebut kalian menjadi salah dua orang yang sedang sangat berbahagia, karena kalian menemukan (setidaknya) sebuah rumah (sementara) untuk beristirahat.
Mungkin di hari itu kalian sudah berbahagia karena saling mengutarakan isi hati kalian antar satu dengan yang lain. Kalian pun menjadi sepasang kekasih yang turut mengundang kebahagiaan untuk orang sekitar kalian.
Berhari-hari berlalu, berbulan-bulan berlalu, kalian semakin terus terhubung. Makan bersama, mengunjungi mall untuk pertama kalinya, saling menunggu setelah selesai kuliah dan bekerja, bermain ke taman kota, menonton film di bioskop, menyusuri kota yang kata mereka berisik, kau dan dia katakan, "tempat ini tiap sudutnya romantis, dan kami suka kota ini"
Tapi pada akhirnya, suratan Tuhan berkata lain di satu waktu. Kau dan dia memiliki masa terbatas. dan tibalah kalian harus berpisah entah itu karena keadaan, kenyataan, atau perasaan yang telah habis.
Tapi bagimu, rasa itu tidak akan pernah ada habisnya, rasa itu memiliki ruang sendiri yang tidak satupun orang lain di dunia ini bisa menyentuh ruangan tersebut seperti dia yang menyentuhnya.
Kau mungkin hancur, kau mungkin marah, sedih, dan terus menerus menangis dengan keadaan yang tidak berpihak ke kalian berdua. Kau melakukan segala macam cara untuk tidak terus menerus didalam kegelapan patah hati yang dibuat karena ekspektasimu terhadap dia untuk dirimu. Kau menyiksa dirimu dengan tidak makan berhari-hari hanya untuk tahu mana yang lebih sakit, tidak makan berhari-hari atau sakit hati itu?
Kau bangkit, dan akhirnya kau bisa menerima segala hal dan menyatakan kepada diri sendiri "aku memaafkannya, seperti halnya Tuhan memaafkan ku karena terlalu mencintai sosok dia. Tuhan tau aku sangat mencintai, jadi ku biarkan dia pergi dengan perasaanku terhadapnya, jika itu membuat dia bahagia tanpaku, aku ikhlas. aku berjanji tidak akan marah maupun sedih, mungkin karena saking cintanya, aku tidak mau membebani nya dengan perasaanku yang sangat-sangat ini."
Hingga satu hari, dia kembali. dan kau tidak hanya tersenyum, tidak deg-degan. karena kau tau dia kembali hanya untuk maksud tertentu dan hanya sebentar.
👦: "halo, apa kabar? baik kah? Kau tampak sehat. ku harap pertemuan ini membuat kita berdua memiliki akhir bahagia walaupun tidak bersama-sama lagi sebagai pasangan. Aku ingin meminta maaf ke pada dirimu. Maaf atas segala tindakan dan perbuatan yang telah ku lakukan padamu. Aku tau aku membuatmu sedih, aku tidak bermaksud untuk melakukan itu. Hanya saja, aku sangat bingung dengan perasaanku padamu. "
Kau bisa paham, atau mungkin kau sudah legowo mendengar perkataannya saat itu. Kau juga sudah tidak menginginkannya kembali, walaupun hatimu masih dipenuhi rasa mencintai nya hingga saat itu. Tapi kau sudah paham akan rencana Tuhan untukmu tanpa dia di masa depan. Kau mendengarnya berbicara saja, sudah membuat kau bahagia tanpa harus menjadi sesuatu hal yang romantis di momen itu.
👧: "Baik, terima kasih sudah bertanya. aku mengerti. kamu juga manusia. bukan malaikat. Aku mungkin masih mencintai kamu, sangat mencintai kamu. Tapi aku paham, mungkin mulai dari hari ini sampai kedepannya bagaimana aku harus bersikap dengamu. yang perlu kamu tau, aku akan selalu sayang padamu, tapi aku paham porsiku kepadamu tidak bisa seperti sebelumnya. Bahagia selalu untukmu, aku memaafkanmu. Kita bisa terus bersahabat, jika kau perlu teman bercerita, kau tahu, aku akan selalu dengan senang hati mendengarnya. Kita bisa bahagia beriringan, walaupun tidak harus bersama lagi."
Begitulah, saat itu kau dan dia berbicara saat malam hari. di sebuah taman kota dekat dengan rumahnya dan rumah kau. tidak perlu berkeliling menyusuri kota, ternyata di taman dekat rumahpun kalian sudah mengutarakan isi hati kalian yang terakhir kalinya untuk mengakhiri kisah yang tidak perlu dilanjutkan karena buku itu sudah tamat di hari itu.
Komentar
Posting Komentar