Langsung ke konten utama

Page 1


2:43 dini hari.
Ada saja alasan otak dan hati untuk tidak mau terpejam, jadwal biologis yang harusnya dilakukan saat ini adalah tidur, bukan berpikir apalagi mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi.
Banyak hal-hal dikepala dipenuhi tanda tanya yang jawabannya sulit ditemukan, atau malah pertanyaan yang mengada-ada saja. Namaya juga pemikiran di jam (menuju) 3 pagi.
Sekelebat pemikiran-pemikiran yang terlintas saat ini meminta untuk diperhatikan. Entah itu tentang kamu, tentang masa depan, atau mungkin tentang masa depan kita berdua.
Aku tidak tahu, pemikiran akan kita berdua ini, semakin kesini harus menjadi sesuatu yang penting atau hanya sebagai sekedar mencari hubungan dekat. Maksudku, di umur kita yang semakin hari seharusnya menjadi dewasa dan pastinya menjadi tua, semua mengenai kita harusnya lebih mudah. Tapi kenyataan tidak mau melihatnya seperti tugas sekolah dasar, yang mudah untuk didapatkan poin sempurna.
Apa yang seharusnya dapat dibuat mudah, malah menjadi kian sulit diterima, entah dari kamu ataupun dari aku. Semakin dewasa kita, apa yang kita sebut tujuan kadang bukan jadi prioritas. Jadi, kita buang jauh-jauh pikiran “kita seperti ini, apa bisa mencapai titik itu?” hah, teramat berpikir menuju garis finish.
Apa aku terlalu banyak berpikir soal kita sehingga lupa menggunakan perasaan ya.... Wajar pula semakin dewasa, otak kita lebih banyak berpikir abstrak tapi bukan berarti perasaan harus dibuang jauh-jauh. Perasaan ada untuk kita sadar kalau kita masih manusia.
Seni dalam menjalani hidup saat ini, saat kita dapat menyingkapi segala sesuatu yang akan menimpa kita dengan sebijak mungkin. Tidak dipungkiri, aku sering kali gagal dalam menghadapinya, makanya hidupku tidak terlalu berseni karena aku mudah sekali kalah dengan apa yang menimpaku. Aku terlalu serius dengan tujuan sampai lupa dengan proses yang sedang dilakukan.
Dan dari inti tulisan inipun malah membuatku semakin (banyak) bertanya-tanya.

Komentar

Posting Komentar