2:43 dini hari.
Ada saja alasan otak dan hati untuk tidak mau
terpejam, jadwal biologis yang harusnya dilakukan saat ini adalah tidur, bukan
berpikir apalagi mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi.
Banyak hal-hal dikepala dipenuhi tanda tanya yang
jawabannya sulit ditemukan, atau malah pertanyaan yang mengada-ada saja. Namaya
juga pemikiran di jam (menuju) 3 pagi.
Sekelebat pemikiran-pemikiran yang terlintas saat
ini meminta untuk diperhatikan. Entah itu tentang kamu, tentang masa depan,
atau mungkin tentang masa depan kita berdua.
Aku tidak tahu, pemikiran akan kita berdua ini,
semakin kesini harus menjadi sesuatu yang penting atau hanya sebagai sekedar
mencari hubungan dekat. Maksudku, di umur kita yang semakin hari seharusnya
menjadi dewasa dan pastinya menjadi tua, semua mengenai kita harusnya lebih
mudah. Tapi kenyataan tidak mau melihatnya seperti tugas sekolah dasar, yang
mudah untuk didapatkan poin sempurna.
Apa yang seharusnya dapat dibuat mudah, malah menjadi
kian sulit diterima, entah dari kamu ataupun dari aku. Semakin dewasa kita, apa
yang kita sebut tujuan kadang bukan jadi prioritas. Jadi, kita buang jauh-jauh
pikiran “kita seperti ini, apa bisa mencapai titik itu?” hah, teramat berpikir
menuju garis finish.
Apa aku terlalu banyak berpikir soal kita
sehingga lupa menggunakan perasaan ya.... Wajar pula semakin dewasa, otak kita
lebih banyak berpikir abstrak tapi bukan berarti perasaan harus dibuang
jauh-jauh. Perasaan ada untuk kita sadar kalau kita masih manusia.
Seni dalam menjalani hidup saat ini, saat kita dapat
menyingkapi segala sesuatu yang akan menimpa kita dengan sebijak mungkin. Tidak
dipungkiri, aku sering kali gagal dalam menghadapinya, makanya hidupku tidak
terlalu berseni karena aku mudah sekali kalah dengan apa yang menimpaku. Aku terlalu
serius dengan tujuan sampai lupa dengan proses yang sedang dilakukan.
Dan dari inti tulisan inipun malah membuatku
semakin (banyak) bertanya-tanya.
Luar biasa wawaaa
BalasHapus