Kapan sih terakhir bisa
nyaman dengan diri sendiri?
Agaknya kali ini akan banyak
tulisan yang sangat amat random dari saya. Kalimat diatas yang ada tanya
tersebut juga membuat saya bertanya-tanya dengan diri sendiri.
Kapan ya? Sampai lupa nyaman dengan diri sendiri rasanya seperti apa. Yang saya tahu, waktu saya bisa nyaman dengan diri sendiri, saya merasa bebas memiliki diri saya, mau seperti apa, mau sedang kenapa, ikhlas merasakan emosi yang baik dan buruk diatas diri sendiri dengan kondisi apapun. Dan hal-hal tersebut sepertinya sudah susah sekali saya lakukan. Semacam ada sekat transparan yang membuat saya sulit nyaman dengan diri sendiri. Sebenarnya sekat itu juga terletak dari diri saya sendiri. Terlebih saya sangat amat terimakasih kepada mindset yang semakin bobrok ini. Kenapa? Karena dia sudah membuat saya lelah melakukan apapun dan membuat bobot tubuh saya....bisa dibilang membuat berat badan saya menjadi bobot terendah selama 10 tahun terakhir ini. hahaha.
Kalau ditanya lagi, apasih
yang buat ga nyaman menjadi diri sendiri?
Apa ya....banyak....salah
satunya, omongan orang-orang. Jadi manusia yang ga peduli ternyata perlu,
apalagi di jaman sekarang. Semakin gampang membicarakan orang dengan anonim di
internet, semakin orang-orang dapat semena-mena dengan perkataannya. Dan baru
saya sadari, saya sangat tidak bisa (atau mungkin lemah?) dalam menanggapi atau
bereaksi dengan pembicaraan orang yang negatif mengenai diri saya. Dari luar
saya terlihat tidak menanggapi, tetapi jauh didalam hati dan pikiran saya akan
selalu bertanya “apa iya saya seperti yang dia bicarakan?”
Mungkin itulah perlunya mengenal
diri sendiri. Bukan untuk orang lain, melainkan dapat menyanggah ataupun
menolak perkataan orang lain mengenai diri kita, karena ya kita sudah mengenal
diri kita sendiri, mengapa mereka sok tahu mengenai diri kira? Apakah mereka kloningan
kita sehingga bisa berkata demikian? Tidak kan? Ya jadi untuk apa diambil
pusing.
Lain hal dan lain kasus, seseorang tersebut secara pribadi empat mata membicarakan apa yang dia tidak suka dari kamu, patut kamu apresiasi dan pikir ulang apa yang dia katakan. Karena, sebaik-baiknya kita adalah yang dapat mengoreksi ataupun memberitahukan ada yang salah pada seseorang dengan cara hanya memberitahukannya saat orang tersebut sendiri, dan kebalikannya jika dia memiliki hal yang baik barulah kita dapat umumkan didepan orang banyak.
Terus, apa yang bisa buat kita
nyaman dengan diri sendiri?
Karena ini blog saya, saya akan
menjawab dengan pemikiran saya sendiri. Boleh diikuti atau hanya sekedar dibaca
juga tidak apa, atau mungkin bisa kita diskusikan bersama kalau bisa.
Hal yang pertama yang harus saya
lakukan adalah dengan ikhlas menjadi diri sendiri. Tidak sampai bertahun
lamanya, mungkin berbulan-bulan lamanya saya sangat tidak nyaman dengan diri
sendiri. Ada ketakutan menjadi diri sendiri. “apa saya bisa diterima
lingkungan?” “apa saya bisa beradaptasi dengan lingkungan baru saya nanti?”
“apa saya memiliki kelebihan? Kekurangan saya pasti akan menjadi hambatan saya
dalam melangkah untuk hidup”
Banyak pikiran akan pertanyaan jelek itu selalu ada dikepala saya, setiap hari, 24 jam, saat melakukan apapun. Ikhlas adalah kunci. Hahaha, saya ingin tertawa tapi ini sangat serius. Ikhlas menurut saya merupakan pekerjaan manusia yang paling sulit saya lakukan. Ikhlas untuk menjadi diri sendiri butuh hati yang sangat amat luas, mau menerima kekurangan diri sendiri dan berbangga tanpa sombong atas kelebihan yang kita punya. Orang yang nyaman dengan diri sendiri akan terlihat dari matanya, terlihat dari sikapnya, dan terlihat dari ucapannya. Ada rasa yang berbeda melihat orang yang nyaman dengan dirinya sendiri. Saya mau merasakan itu, dan saya sedang mengusahakannya. Belajarnya berkali-kali, setiap jatuh untuk menjadi diri sendiri, saya marah. Lucu ya, menjadi diri sendiri saja susah. Sok-sokan pula ingin menjadi si ini, ingin menjadi si itu. Kadang menerima diri sendiri lebih sulit daripada menerima orang lain.
Menerima orang lain dapat dengan
mudah karena ya semua apa yang dimiliki orang lain, ya itu milik mereka, kita
tidak dapat mengubah ataupun menyuruhnya berubah. Berbeda dengan kita, kita
yang memiliki diri kita sendiri, sudah tahu ada hal yang kurang tapi tidak mau
meng-improve diri. Jatuhnya? Ya marah dengan diri sendiri kenapa seperti itu.
Saya sangat tahu diri kalau diri saya adalah pemalas ulung, saya tahu saya
punya kewajiban mengerjakan tugas, tapi saya tunda melakukannya sampai waktu
tenggat datang. Tahap malas saya sudah tidak memiliki penyesalan saat
mengerjakan tugas tersebut di waktu tenggat.
Pekerjaan kedua manusia yang sulit
adalah, jujur mengenai diri sendiri. Kadang ikhlas dan jujur itu seperti paket
komplit, pas. Satu ada, tapi satunya tidak untuk diri sendiri ya ada yang
kurang pas saja. Jujur akan baik dan buruk yang dimiliki diri sendiri juga
harus diterima. Jujur kalau saya tidak bisa melakukan sesuatu yang orang banyak
bisa dan saya tidak bisa melakukan. Jujur kalau apa kelebihan yang dipunya bisa
dijadikan sebuah kebanggaan diri. Jujur kalau memang tidak bisa, jujur memang
kalau masih bodoh, jujur kalau tidak bisa secantik perempuan-perempuan
selebriti yang fisikanya menjadi kebanggaan siapapun yang melihatnya.
Saat menulis ini pun saya masih
harus main tebak-tebakan harus menulis seperti apa yang bagus agar bisa enak
dibaca selain saya walaupun kenyataannya memang saya saja yang akan membaca
tulisan-tulisan ini juga hehe. Tapi jujur, Jujur untuk diri sendiri saja sulit,
apalagi yang sudah terbiasa berbohong, berbohong kalau sebenarnya tidak bisa menolong
teman tapi dibalik rasa gaenak akhirnya berbohong..ke diri sendiri dan pastinya
ke teman juga. Itu satu contoh kecil soal kejujuran dari diri sendiri.
Jangan terbiasa mendapatkan
kalimat, kata-kata, ucapan, perlakuan baik. tapi saya juga tidak menyuruh untuk
mendapatkan yang buruk-buruk secara terus meneru. Kadang yang buruk juga bisa
jadi sesuatu yang baik bila disadari. Hemm, terdengar seperti sebuah ayat dari
kepercayaan saya “apa yang baik menurutmu, belum tentu baik bagimu. Apa yang
menurutmu buruk, belum tentu buruk bagimu.” Ya seperti itu kurang lebih bunyinya.
Maaf saya tidak bisa mencantumkan di surah berapa karena ilmu agama saya amat
lemah (ini saya jujur untuk yang baca dan diri saya sendiri tentunya).
Terbiasa dengan apa-apa yang
baik, saat dihadapkan dengan setitik buruk bisa jadi sebuah bom ataupun retakan
diri sendiri.. saya menyadari saat diterpa kenyataan dengan orang-orang yang
anggap mampu dengan saya ternyata tidak bisa melihat saya jatuh dan memilih
memalingkan wajah sedangkan yang saya anggap sangat tidak cocok dengan saya
malah menjadi orang-orang masih saya ingat perbuatan baiknya ke saya hingga
saya mengetik tulisan ini.
Butuh sekalikali diterpa sesuatu yang buruk untuk tahu ada sesuatu yang baik menunggu kita. Saya belajar, walaupun dengan segala teriakan, tangis yang meraung-raung, tawa menggelagar hingga terbahak-bahak, sampai entah harus beraksi emosi seperti apalagi untuk menerima segala sesuatu yang menimpa diri.
Ikhlas, jujur, dan diterpa kondisi
buruk adalah paket yang membuat diri sendiri menemukan caranya menjadi nyaman
dengan diri sendiri. Perlahan saat saya menulis ini, saya hampir saja menemukan
kenyamana saya kembali dengan cara yang berbeda sebelumnya saat saya nyaman
dengan diri saya.
Komentar
Posting Komentar