Langsung ke konten utama

Jadi Guru tidak Se-Indah Cita-Cita yang Dibayangkan

Dulu, banyak dari kita semua (setidaknya kepikiran punya) cita-cita atau mimpi menjadi seorang guru. 

Untuk diriku sendiri, jadi guru sebenarnya bukan cita-cita utama, tapi kayak alternatif. Jadi guru itu sebenarnya indah, menyenangkan...kalau dibayangkan wkwkwk.

Gimana enggak, dibayangan aku dulu, jadi guru itu mengajarkan ilmu dan materi yang kita sudah kuasai, menyampaikan ke mereka dan membuat mereka mengerti dengan ilmu yang kita miliki. setidaknya disitu menyenangkan. belum lagi bertemu dengan murid-murid yang kadang tingkahnya susah kita tebak dia sedang apa dan akan melakukan apa. Hari ini mereka baik-baik aja, besoknya mereka bertengkar dengan temennya, lusa baikan lagi. Belum lagi, kalau ada siswa yang benar-benar mengapreasiasi keadaan kita, guru. Tiba-tiba dia bisa kasih kami hadiah, kadang ada aja word affirmation yang mereka berikan ke kita, ada yang benar-benar paham dengan ilmu yang kita berikan (jadi ada semacam rasa bangga sama diri sendiri hahah) dan hal-hal lain semacam itu. Itu yang buat seru dan menyenangkan dari mengajar.

Yang orang-orang gatau soal guru (terlebih di negeri kita tercinta ini), ada hal-hal yang sangat pahit yang harus diterima seseorang saat jadi guru. telaah satu-satu deh yuk menurut kesotoyan aku ini\

*oya, perlu diingat, tulisan di bawah ini murni dari opini yang ku punya, dari pengalaman ku selama ini menjadi bagian tenaga pendidik dalam kurun waktu 3 tahun. jadi, adapun sesuai maupun tidak sesuai dengan data yang ada, diriku mohon maaf, karena tulisan ini tujuannya mengeluarkan keluh kesah ku akan dunia pendidikan, terkhususnya sebagai guru*

1. Upah/gaji yang tidak sesuai

ini hal yang sangat amat sering dibahas oleh orang-orang sekitar. Karena di wakanda ini, gaji guru sangat amatlah kecil, apalagi sekelas honorer. seperti diberi upah sekedarnya. 

Tidak semua sekolah seperti itu, terlebih sekarang sekolah-sekolah swasta lebih bisa dan tahu cara membuat sejahtera guru-guru yang mengajar dengan gaji yang seusai dengan tugas-tugas yang dimiiki sang guru.

dengan upah/gaji yang tidak sesuai ini, kadang jadinya sebuah bumerang untuk negara ini. orang-orang kompeten di bidang mengajar akan pergi begitu saja karena usahanya yang dianggap remeh dan itu membuat mereka

2. Kesejahteraan Para Guru yang jarang diperhatikan

Orang-orang umum banyak yang belum mengetahui betapa melelahkannya menjadi seorang guru. yang mereka tahu: "ngajar setelah itu pulang"

Apa iya sesantai itu kerjanya? sebenarnya saya tidak suka dengan orang yang dengan gampangnya bilang "ya kamu jadi guru enak ya santai". 

Let me tell you, di sini guru-guru tidak se-sejahtera yang dilihat. Mungkin, untuk guru yang sudah memiliki jabatan seperti guru yang sudah jadi PNS mungkin kesejahteraannya terjamin. tapi diluar itu? orang-orang sekarang akan memikirkan ulang untuk mencari pekerjaan selain guru.

Tapikan  bisa jadi guru di sekolah swasta, gajinya lebih besar dari yang mengajar di sekolah negeri. Berapa persen banyaknya sekolah swasta bagus yang bisa menjamin kesejahteraan guru-gurunya? Ada, tapi tidak banyak.

Lebih banyaknya, kebanyakannya, dan sebagian besarnya sekolah-sekolah yang ada di tanah ini, guru-guru mempunyai jobdesk atau pekerjaan yang di sekolahnya itu sangat banyak, sampai-sampai harus bekerja di luar jam kerja. Jangan bilang kami para guru hanya mengajar. saya kasih tau tugas yang harus dilakuakn guru-guru:

    a. Mengajar di kelas, tidak hanya satu kelas. tapi ada beberapa kelas, seminimalnya mungkin 3 kelas untuk paralel, sedangkan paralel kelas ada sampai 6 kelas untuk sekolah dasar, dan 3 kelas untuk masing-masing sekolah menengah pertama dan atas. tapi sekolah menengah, paralelnya mungkin bisa sampai di atas 5 kelas.

    b. Mempersiapkan bahan ajar, ya kami para guru seharusnya dan harus sih untuk mempersiapkan bahan ajar saat mengajar di satu kelas. modern ini tidak hanya mengenai powerpoint yang dipakai tapi juga bagaimana caranya mentransfer ilmu dengan cara yang membuat semua peserta didik paham tidak hanya melalui verbal bisa juga dengan melakukan kegiatan even sekalipun harus melakukannya di luar ruangan. karena tidak semua materi pembelajaran bisa di lakukan di kelas dengan berceramah. kalian tahu untuk membuat RPP atau rancangan pengajaran dan pembelajaran itu sangat amat banyak. kalian harus tulis materinya apa, berapa alokasi waktu, buku apa yang dipakai, media yang dipakai, apa saja ketercapaian yang mau diraih, sistem penilaian yang mau dilakukan, soal yang harus dibuat sesuai standar dan tidak boleh asal-asalan, kalau remedial harus mengerjakan tugas seperti apa, bagaimana mulai-inti-akhir pembelajaran dalam sekali waktu, dan itu harus kita buat sebelum tahun ajaran dimulai. semua itu sangat amat melelahkan.

    c. Mempersiapkan administrasi sekolah maupun perihal keguruan. yaps, di sini hal-hal bersifat administrasi itu bener-bener bikin fucked up  ribet banget! mudah sebenarnya, tapi rumit. kita harus isi web ini, tapi sebelumnya harus isi website yang sana, dan harus punya akun ini itu untuk bisa akses, dan semua itu melelahkan sekali. dan tidak jarang guru yang sudah lelah dengan tetek bengek yang ada di sekolah kesulitan untuk mengerjakan perihal administrasi dengan meminta tolong ke guru yang lebih paham akan teknologi dan ya... jadinya guru itupun jadi punya pekerjaan lebih banyak dan buat stress.

jadi jangan bilang kalau guru itu cuman mengajar ya!!

3. GURU HONORER

Udah rahasia umum mengenai guru honorer ini. yang belum tahu, guru honorer ini semacam "guru magang atau guru kontrak" yang kerja di sekolah tapi belum terikat sepenuhnya, jadi orang yang baru lulus dari sarjana dengan titel kependidikannya or S.Pd akan melalui tahap ini jika benar-benar ingin berkecimpung di dunia tenaga pendidikan. untuk sepenuhnya menjadi guru yang diakui negara, guru yang belum punya pengalaman ya harus magang untuk dapat beberapa tahun pengalaman untuk bisa nantinya mengikuti test menjadi guru sepenuhnya dan bisa bekerja di sekolah negeri.

kalopun tidak mau melewati itu tidak masalah, ada sekolah swasta. hanya saja, yang ku ketahui sekolah swasta memiliki sistem kontrak ke guru-gurunya jadi tidak terlalu mengikat seperti sekolah negeri pada umumnya. tapi juga, sebagai guru mau negeri ataupun swasta harus memiliki nomor induk dan untuk mempunyai itu ya tetap sama: harus memiliki beberapa tahun pengalaman mengajar di sekolah.

begitulah ribetnya. jadi guru honorer itu kadang seperti merasa dunia itu kejam. karena tahu kita itu freshgraduate, senior-senior pasti akan sangat mengandalkan guru honorer melakukan "lebih" untuk sekolah, entah itu membuat rpp, masalah administrasi, maupun masalah receh yang sebenernya para senior bisa kerjakana. tapi seringnya....ya begitu deh hehehe

4. Sejahtera mana: Swasta atau Negeri? SAMA AJA!

mungkin dari luar, terlihat swasta itu lebih menyejahterakan dibanding bekerja di sekolah negeri. dengan segala fasilitas yang dimiliki sekolah swasta, peserta didik lebih nyaman untuk fokus belajar dengan sarana prasarana yang dimiliki. tetapi karena kita berbicara mengenai guru, kesejahteraan guru di sekolah swasta tidak jauh berbeda dengan yang ada di negeri. 

terlebih, sekolah swasta ini lebih mengusung "kemodern-an" ya untuk tenaga pendidiknya sendiri dituntunt untuk bisa mengikuti jaman. dan yang kita tahu, lulusan S.Pd di negeri ini mendapatkan ilmu mengajar yang menurut saya sekali lagi (sotoynya saya) belum terlalu mengikuti kemodernan ini. saya yang dulu duduk dibangku sekolah menggunakan kurikulum KTSP, saat kuliah belajar di universitas mengenai kurikulum K-13, tapi saat saya lulus kenyataannya pemerintah sudah mengganti kurikulum menjadi Kurikulum Merdeka. dan itu saya tidak tahu sama sekali mengenai kurikulum ini, dan saat saya pelajari mengenai kurikulum ini, lumayan ataumungkin bisa dibilang beberda dengan apa yang saya pelajari di kampus. membuat RPP saja sudah berbeda, begitu pula dengan gaya ataupun cara  mengajar di dua kurikulum tersebut. kalau K-13 lebih seperti presentasi walaupn di selingin dengan peserta didik harus ikut andil sebanyak 30% tetapi di kurikulum merdeka ini, peserta didik harus berperan aktif dalam pembelajaran tidak seperti kurikulum-kurikulum sebelumnya.

dan belum lagi, sekolah swasta sudah memakai standar internasional, dengan kata lain kurikulum yang digunakanpun di-mix dengan kurikulum internasional seperti Cambridge atau IB. dan kurikulum internasional tidak ku dapatkan di bangku universitas. dan ya itu membuat saya agak sedikit kesal dan menyesal selama 4 tahun ini seperti belajar hanya beberapa persen dari 100% yang harusnya saya bisa aplikasikan di kehidupan mengajar ku.

so ya, untuk guru freshgraduate yang mau memulai mengajar di sekolah swasta, aku rasa juga lumayan sulit untuk bisa beradaptasi dengan tempat kerja yang dituntut harus bisa mengajar karena ekspektasi dari orang tua maupun anak-anak yang bersekolah swasta sekarang ini lebih besar dibanding dulu.

5. Sistem Pendidikan yang tidak searah dengan pengembangan ilmu pendidik

    yang sudah kita tahu, pendidikan di sini benar-benar tidak merata yang satu dengan yang lainnya. Mungkin di sini, pendidik yang dipunyai memiliki kualiatas unggulan sampai sampai harus export pendidik dari luar negeri yang lebih berkompeten (katanya) untuk bisa mencetak generasi yang lebih unggulan. dan pendidik di sini, yang bersekolah di sini seperti dianggap kurang berkompeten karena seperti yang sudah akusebutkan di poin sebelumnya.

agak dilema dan kasihan (lebih ke diri sendiri sih kasihannya huhu). lulusan sarjana kependidikan yang di miliki negara ini sebenarnya banyak, sangat banyak. tapi ya karena menjadi guru di negera ini tidak menjanjikan ya seperti yang sudah kita lihat sekarang di mana-mana , bagaimana standar kompeten tenaga pendidik yang menurut aku sendiri masih kurang atau d ibawah standar

6. Selalu soal: Cari tambahan pekerjaan

    Sebenarnya ini keresahan diri sendiri aja sih. Kenapa ya setiap pekerjaan guru ini harus selalu dibilang "ya kalo ga cukup cair kerjaan tambahan aja, ngajr private gitu?". dan yang ngomongin gini adalah orang-orang yang cuman punya pekerjaan utama dan satu-satunya sumber penghasilan tapi bisa mencukupi untuk keseharian. kayak....apakah dia tahu kalau pekerjaan guru juga jobdesk nya sama banyak dengan pekerjaan lainnya yang bisa melelahkan, bukan hanya "mengajar di kelas aja". dan apakah kalian tahu, mengajar di kelas pun membutuhkan energi besar karena harus menghadapi 20an jiwa dalam sekali waktu, sedangkan mengajar bisa untuk beberapa kelas banyaknya. Bayangkan, kalian harus bertemu ratusan jiwa yang berbeda-beda sifat karakter, perilaku di kelas yang harus bisa kita berikan ilmu yang kita punya ke mereka. ada yang paham, sebagiannya tidak paham, dan ada yang tidak begitu peduli dengan guru. so, masih bisa bilang suruh cari tambahan kerja?

    Kesannya, seperti mengeluh ya, tapi ya kenyataannya begitu. ya kita juga sebagai guru mau hanya punya satu jenis pekerjaan yang bisa memenuhi kebutuhan hidup kita di dunia tapi kenyataanya ya pekerjaan itu tidak bisa benar-benar jadi sumber utama mendapatkan rejeki. dan selalu dihubungkan dengan "ya bersyukur saja dapat segitu daripada tidak punya pekerjaan sama sekali"

    apa tidak bisa ya di negeri ini gurunya 

7. Guru bukan cuman ngajar!

ya, sekali lagi bisa di baca dari atas sampai akhir ini. 

sebenarnya tulisan ini cuman keluh kesahku aja sih mengenai gimana sistem pendidikan di sini yang jahat (menurutku) ke guru-guru maupun calon guru (yang mau) mengajar nantinya.

berdoa saja di kedepannya sistem pendidikan ini bisa lebih baik di tangan orang-orang yang memang mau memajukan pendidikan negeri tanpa harus mengorbankan guru-guru yang sudah rela dan mau mengajar. 

Tentunya terima kasih sekali, terima kasih banyak kepada guru-guru yang sudah mendidik, mengajari, dan memberi ilmunya kepada kita yang selama ini baru kita pahami kalau menjadi guru itu tidak seindah bayangan kita sewaktu kita kecil, dan pilihan menjadi guru di era sekarang ini bukan sesuatu yang diminati lagi di sini karena situasi kondisi yang membuat guru mau tidak mau menjadi korban sistem yang dibuat penguasa.

Agaknya kita semua setuju, tidak sejahteranya guru-guru akan berdampak dengan keberlangsungan masa depan para penerus masa depan negera ini. bagi yang memiliki segala privilege mungkin akan berpikir dua kali untuk meneruskan keberlangsunga hidupnya dan pendidikannya di negara ini, sedangkan dengan yang mau tidak mau meneruskan pendidikan di negara ini harus menerima segala ilmu yang tidak maksimal dari sistem pendidikan yang ada, baik itu dari SDM guru maupun fasilitas yang di miliki instansi sekolah tersebut.

Salam!

Komentar